English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

7/21/2009

Sebuah kampung di sudut Gunung

Pagi masih menyisakan embun, Yonas salah satu penduduk asli kampung ini tampak sibuk seperti masyarakat metropolitan yang sibuk berlomba dengan waktu, aku duduk di depan dagangan warung kelontong, menanti pembeli. “mau beli!!!!” datangnya suara itu dari seorang bocah sekitar 5 tahun, rambutnya keriting tak terawat, perutnya seperti balon bertuliskan haapy birthday, ingusnya seperti 2 kereta api balapan dari terowongan gelap yang penuh dengan upil berlumut, seraya menyodorkan kearahku uang 1000 rupiah kumal. Masih tersisa bekas lelehan airmata dipipinya bukti perjuangannya merengek-rengek kepada ibunya untuk mendapatkan 1000 rupiah yang kumal itu.
“mau beli apa?”, tanyaku
“beli cokolat”, coklat batangan seharga 1000 maksudnya
“ini”, ujarku sembari menyodorkan coklat pesanannya, ia meraih coklat itu dari tanganku seraya senyum puasnya merekah lucu pertanda perjuangannya mendapatkan coklat satu batang hari ini telah sukses. Ia meniggalkan toko kelontongku sesekali dari kejauhan kulihat dia mulai membersihkan ingusnya dengan lengan bajunya. Sunggh Hari yang indah buatnya hari ini.

Sementara itu yonas mencangklung tasnya seperti aktivis kemanusiaan tampak berlomba dengan waktu. Aku tau kemana dia pergi.

Setiap hari senin jalan raya sudah tidak terlihat lagi, tertutup sudah oleh aktivitas pedagang, bukan hanya pedagang saja tapi masyarakat dari segala penjuru mata angin dan gunung tumpah ruah di pasar, banyak yang datang dari ber mil-mil jauhnya hanya untuk nongkrong, ngobrol, di tengah jalanraya pasar. Atau sekedar menyaksikan istri-istri mereka berjualan di pasar. Kesinilah Yonas berlabuh setiap pagi menyibukan dirinya dengan obrolan-obrolan hangat bersama teman-temannya.

Sebuah kabupaten di tengah pegunungan, dengan penduduk yang sangat polos sangat menyentuh hati, “Enarotali papua”

0 komentar:

Pengikut