English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

7/22/2009

God Iam sorry

Arloji menunjukan pukul 11 malam, kamar 136 masih jauh dari tanda-tanda terlelap, kamar 132 juga masih menyandang statusnya sebagai pusat perbelanjaan vyatra I atas, ada yang jual mi instan, jual pulsa, sedangkan kamar 134 juga masih menjaga kualitasnya sebagai pusat studi asrama vyatra I atas walaupun akhirpekan sedang berjalan, si Hamo seperti jam weker yang di set setiap jam 11 berkoar-koar mencari masa untuk menyerbu migoreng Udha sebelah asrama. Kamar 137 tetap anteng nan hening lantaran kamar ini sebagai pusat informasi teknologi komputer dan service Hp di kepalai anak asal palembang bernama Augen, mirip nama dewa Yunani, memang dia seperti Dewa teknologi di asrama yang tak segan-segan memasang tarif lawan untuk kawan dalam suatu kerusakan.

Si Bulug makin banyak pengikutnya, lantaran selalu uptodate film2 panas yang disebarluaskan melalui ponsel, setiap video dilabeli oleh si Bulug, ”hanya boleh di tonton malam minggu, jika diluar hari itu sang vendor tidak bertanggung jawab”, si Boim korban paling parah, siang malam gadis-gadis genit dalam ponselnya menghantui akal dan pikirnya semakin membuatnya tak waras, malaikat dalam hatinya hanya bilang ”ingat Im ingat, insyaf, insyaf”. Tuhan hanya menghela nafas di surga sana.

”kas gimana ni, teman-teman satu asrama pada keracunan Video panas, ga bisa di biarkan ini”, ujar Tyan seperti kaum Ulama meresahkan facebook.
”tak, tau lah Tyan masalahnya aku juga ikut nonton, jangan berlagak kayak pendeta kau”, jawabku mengikuti asal usulnya tanah Batak.
”ya udah lah Kas kalo gitu”, sergahnya kecewa. Mungkin saja benar yang dikatakan si ucok kapan hari, ada dua kebanggaan orang batak, jadi Preman atau jadi Pendeta (kalo jadi alim, alim sekalian, kalo jadi preman, jahat sekalian, jangan nanggung-nanggung”), rupanya si Tyan menempuh jalur pendeta.

Beberapa hari kemudian Tyan datang dengan penuh rasa sesal padaku. Seperti jendral kalah perang.
”napa Yan, kok suntuk banget? ”
”aku merasa bersalah banget kas”
”napa?”
”tuh liat si seno, sewa komputer di kamar”
”trus apa masalahnya?”
”tau ga drivenya penuh dengan video panas, tiap malam temen-temen pada nonton”
”so?”
”ya jadinya aku ikutan nonton”
”hahaha....tyan,tyan. Yan ga ada yang ideal di dunia ini, apalagi diasrama Vyatra I atas ini. Jadi janganlah kau idealis, akhirnya kena batunya juga”

“eh prasaanku nggak enak nih”, sela Indra si pengusaha pulsa dadakan itu, “semalam aku mimpi asrama vyatra 1 ini runtuh” tidak ada yang selamat satupun.
“oh my God”, Seno terbelalak matanya bundar sebundar jerawat batu yang tumbuh subur di wajahnya.
Pernahkah kamu menonton film pearl harbour? Bagamaina pesawat tempur jepang berdesingan menembaki seraya membombardir pangkalan pearl harbour padahal tentara Amerika baru saja berpesta ria merayakan kemenangan. Seperti itulah siswa AKAMIGAS-STEM jurusan TLP 1, pak Sukar yang terkenal mepersukar siswa kini benar-benar seperti pesawat jepang meluluhlantakan pearl harbour. Amarahnya berdesingan tak karuan seraya menggelegar seperti bom atom pecah.
“kalian ini katanya pilihan.” Semprotnya pada 30 siswa penghuni Asrama Vyatra 1 atas itu, “tunjukan kalian bahwa kalian pilihan dan terbaik, masak di kasih soal gitu aja ga ada yang bisa jawab”, lanjutnya seperti senapan otomatis di mulut pesawat jet jepang. “kalian harus remidial semua, kecuali, Ardi, Yono, iyong, ahmad”. Nama-nama yang disebut adalah penghuni kamar 134 Pusat pendidikan asrama Vyatra 1 atas.

Sunyi....sepi....tak satupun bersuara, langkah semutpun bisa terdengar. Padahal pak sukar sudah tidak ada. Aku juga terdiam, ku ber ucap lirih “Tuhan maafkan serta ampuni aku dan tolong aku melewati hari-hari selanjutnya sebab aku mencintai Engkau. ini pasti karena kegiatan malam minggu” 3 Kata yang susah diungkapkan oleh manusia baru saja ku ucapkan
1. Aku cinta kamu
2. Maafkan aku
3. Tolong aku
Kata ibuku, jika 3 kata itu susah diucapkan dengan sepenuh hati pasti susah juga dalam berelasi. Dengan siapa saja, termasuk berhubungan dengan Tuhan. “oh God iam sorry...”, Unutung saja Tuhan hanya memberi remidial tidak mendepaku dari Akademi kala itu.

0 komentar:

Pengikut