English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

7/21/2009

KEJAMNYA DUNIA

Aku sering menyaksikan acara National Geographic yang di tayangkan oleh stasiun televisi lokal, dimana paling sering di tayangkan adalah ekosistem di belantara Afrika, betapa kejam binatang-binatang pemangsa menghabisi mangsanya dengan segala cara tipu muslihat keji, kasiahan rasanya melihat rusa di kejar-kejar singa, anak gajah di keroyok heyna-heyna bajingan. Seandainya aku bisa menciptakan pakaian pelindung di lengkapi senjata dan bisa menembus ruang dan waktu, aku akan menolong anak gajah dan rusa yang di hajar oleh predator itu, tapi aku hanya bisa menghela nafas sembari menyeruput segelas kopi. Sesekali ku ganti saluran TV jika terasa sumpek menyaksikan adegan mangsa di mangasa itu.

Di saluran Televisi lain kudapati seorang presenter berita kriminal membaca teks menghadap kamera berwajah serius, berita itu berisi pembunuh menghabisi korbannya, lantaran si korban tidak melunasi hutang pada si pembunuh sejak 5 tahun lalu.
“akh muak rasanya, setiap hari ada berita pembunuhan”, sekali lagi ku ganti saluran televisi.
Wanita cantik duduk di sofa mewah pada saluran yang baru ku tonton, dengan gaya bicara aduhai dan meyakinkan konspirasi di balik si korban gosip adalah benar. Membicarakan kehebatan, kekalahan dan kesalahan orang lain adalah bagiannya, “bukan sesuatu yang salah ”, tapi tetap saja tak senonoh menurut nenek moyang kita. Dunia sudah berubah jika tidak ikut tren maka kita diaanggap kolot dan tak berkembang. Itulah yang harus di jalani.
Wanita cantik itu terus bercuap-cuap menhajar korban gosip, mungkin kalau dilihat dari langit, bumi ini seperti medan pertempuran, siapa kuat dia yang menang, “30 menit sudah saya menemani anda kini saatnya saya undur diri”. Habis sudah acara yang disenangi oleh ibu-ibu gossipers itu. Ku kembalikan lagi saluran ke tayangan national geographic tadi.
Singa itu masih terus mengejar-ngejar rusa, sedangkan heyna2 bangsat itu masih menghajar anak gajah yang semakin tak berdaya, tapi itulah ekosistem. “tuuut..tutt” nada pesan ku berdering, ku baca pesan itu berbunyi. “maaf pak anda hanya mendapat 5 persen dari proyek ini setelah kami adakan negoisasi”, 5 persen artinya aku hanya mendapat 1 juta rupiah selama 18 hari ngajar oficce kepada 20 orang yang baru menerima peradaban di pedalaman luar biasa lolanya.

Dengan penuh kecewa acara mangsa memangasa itu masih ku tonton, anak gajah itu menguik-nguik tak berdaya, inilah realita dunia yang kejam, yang kuat tetap akan menang, yang rakus akan tetap memangsa selama ada korban tanpa mempedulikan ia sudah kenyang.
Ku padamkan televisi, ku endapkan kecewaku, ku buka Kitab Suci menasihati, “cerdiklah seperti Ular dan Tuluslah seperti merpati”. Sebuah kata yang tepat untuk hidup di dunia yang kejam ini.

0 komentar:

Pengikut